Rupiah Tertekan, Ringgit dan Dolar Singapura Tetap Tangguh: Apa Penyebabnya?

Admin RedMOL
0
Jakarta, RedMOL.id – Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan di pasar keuangan global dan bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Sejumlah analis bahkan memperkirakan pelemahan dapat berlanjut hingga mendekati Rp19.000 per dolar apabila kondisi global belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Sejak awal tahun 2026, rupiah tercatat mengalami penurunan sekitar 7 persen terhadap dolar AS. Kondisi tersebut menjadikan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang paling tertekan di kawasan Asia. Di saat yang sama, mata uang negara tetangga seperti Ringgit Malaysia (MYR) dan Dolar Singapura (SGD) justru mampu bertahan lebih stabil.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar dan masyarakat: mengapa rupiah melemah cukup dalam, sementara mata uang Malaysia dan Singapura relatif kuat?

Tekanan Global Perkuat Dolar AS

Salah satu faktor utama berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk menjaga stabilitas ekonomi domestiknya.

Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global. Akibatnya, arus modal cenderung mengalir keluar dari negara berkembang menuju instrumen investasi yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi di Amerika Serikat.

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan dunia turut memperkuat posisi dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven). Saat ketidakpastian global meningkat, investor biasanya memilih menyimpan dana dalam dolar dibanding mata uang negara berkembang.

Singapura dan Malaysia Memiliki Keunggulan Tersendiri

Meski menghadapi tekanan global yang sama, Singapura dan Malaysia memiliki fondasi ekonomi yang memberikan perlindungan lebih kuat terhadap gejolak pasar.

Di Singapura, otoritas moneter menggunakan kebijakan berbasis nilai tukar sebagai instrumen utama pengendalian inflasi. Strategi tersebut membuat dolar Singapura cenderung stabil dan bahkan sering dianggap sebagai salah satu mata uang paling aman di kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, Malaysia memperoleh keuntungan dari statusnya sebagai eksportir minyak dan gas. Ketika harga energi dunia meningkat akibat konflik geopolitik, pendapatan ekspor negara tersebut ikut terdongkrak sehingga memperkuat posisi Ringgit Malaysia di pasar valuta asing.

Faktor Domestik Menambah Beban Rupiah

Di dalam negeri, sejumlah tantangan ekonomi turut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Pertama, surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penyusutan seiring meningkatnya biaya impor minyak dan gas. Kondisi ini mengurangi pasokan devisa yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar.

Kedua, pasar juga mencermati potensi pelebaran defisit anggaran pemerintah. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal tersebut membuat sebagian investor mengambil sikap lebih hati-hati dalam menempatkan modalnya di Indonesia.

Ketiga, pasar obligasi domestik dinilai belum cukup menarik bagi sebagian investor asing karena selisih imbal hasil antara obligasi jangka pendek dan jangka panjang relatif tipis. Situasi ini mengurangi daya tarik investasi portofolio yang biasanya menjadi sumber masuknya devisa.

Perlu Penguatan Fundamental Ekonomi

Pengamat menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS, tetapi juga mencerminkan tantangan struktural yang masih dihadapi perekonomian nasional.

Di tengah keuntungan yang dinikmati Malaysia dari sektor energi dan kekuatan sistem keuangan Singapura, Indonesia dituntut memperkuat kebijakan fiskal, menjaga stabilitas neraca perdagangan, serta meningkatkan kepercayaan investor agar tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.

Dengan perbaikan fundamental ekonomi yang konsisten, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan dapat kembali terjaga meskipun dunia masih menghadapi berbagai ketidakpastian global.


Reporter: Sahril

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)