Maluku Utara,RedMOL.id-Fenomena Sosial di belakangan ini menghadirkan ironi. Ketika isu kenaikan harga BBM yang berdampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat mencuat, gelombang protes yang muncul tidak terlihat sebesar antusiasme warga saat menyambut pesta sepak bola dunia 2026.
Di Kota Ternate, sejumlah elemen mahasiswa memang turun menyuarakan kritik terhadap kebijakan energi dan dampaknya terhadap masyarakat.
Namun dibandingkan dengan euforia sepak bola, jumlah massa aksi terlihat jauh lebih kecil. Ruang publik yang biasanya menjadi tempat menyampaikan keresahan rakyat justru lebih ramai ketika pertandingan berlangsung.
Sementara itu, suasana berbeda terlihat saat sepak bola menjadi magnet perhatian. Pawai, nonton bersama, hingga kerumunan pendukung tim mampu menghadirkan massa dalam jumlah besar.
Bukan hanya di Ternate, fenomena serupa juga terasa hingga daerah lain seperti Halmahera Selatan dan kabupaten/kota di Maluku Utara.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah masyarakat hari ini lebih mudah digerakkan oleh hiburan dibanding persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar?
Sepak bola tentu bukan sesuatu yang salah. Olahraga mampu menyatukan masyarakat, membangun kebersamaan, dan memberi hiburan.
Akan tetapi, ketika energi sosial yang besar hanya muncul untuk perayaan pertandingan, sementara persoalan BBM yang berpengaruh terhadap harga barang, transportasi, dan ekonomi warga tidak mendapat tekanan publik yang sebanding, maka ada fenomena yang patut dikaji.
Di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara, BBM bukan sekadar soal kendaraan. Harga dan ketersediaannya berkaitan langsung dengan rantai distribusi, ongkos transportasi laut, harga kebutuhan pokok, hingga aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Ironinya, ketika bola bergulir, jalanan bisa dipenuhi warna dan suara dukungan. Ketika harga energi menjadi beban, suara yang muncul justru minim.
Baca Juga: Ihdad di Era Modern Jadi Sorotan! Webinar Nasional MHI Kupas Keadilan Gender dan Perempuan Bekerja dalam Hukum Islam
Apakah ini tanda masyarakat mulai kehilangan daya kritis terhadap persoalan publik? Atau justru menunjukkan bahwa ruang hiburan kini lebih berhasil menyatukan warga dibanding isu kebijakan yang menyangkut kehidupan sehari-hari?
Fenomena ini bukan sekadar membandingkan bola dan demo. Ini adalah cermin tentang bagaimana perhatian publik terbentuk. Sebab, kemenangan sebuah pertandingan hanya bertahan satu malam, tetapi dampak kebijakan harga bisa dirasakan masyarakat berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Di Maluku Utara, energi kebersamaan yang terlihat saat sepak bola seharusnya juga bisa hadir ketika memperjuangkan kepentingan rakyat.
(Tim/Redaksi)
