“Merdeka dari Penjajahan, Belum Merdeka dari Krisis Air”: Jeritan Warga Dowora Menjelang Kemarau!

Admin RedMOL
0
Halmahera Selatan,RedMOL.Id–Terdengar jeritan dari sebuah kampung terpencil di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Bukan jeritan karena perang, bukan pula karena bencana besar, melainkan jeritan masyarakat yang hingga kini masih bergulat dengan persoalan paling mendasar dalam kehidupan: air bersih.

Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan, menjadi gambaran tentang bagaimana kebutuhan dasar masyarakat masih belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Di tengah usia kemerdekaan Indonesia yang telah mencapai 81 tahun, warga desa tersebut mengaku belum pernah menikmati akses air bersih atau air layak minum secara memadai.

Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hingga 2026, persoalan air bersih di Desa Dowora disebut masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Bagi masyarakat Dowora, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air merupakan kebutuhan utama untuk minum, memasak, mandi, menjaga kebersihan, hingga menunjang kesehatan keluarga.

Namun ironisnya, ketika kebutuhan dasar tersebut belum juga terpenuhi, warga justru harus menghadapi ancaman musim kemarau yang dikhawatirkan dapat semakin memperburuk kondisi mereka.

Janji Politik yang Tak Kunjung Menjadi Kenyataan

Persoalan air bersih di Desa Dowora juga menyisakan kekecewaan terhadap janji-janji politik yang pernah disampaikan dalam berbagai momentum pesta demokrasi.

Warga mengaku, setiap momentum pemilihan kepala daerah maupun kontestasi politik, persoalan air bersih kerap menjadi salah satu isu yang disampaikan kepada masyarakat. Janji pembangunan sarana air bersih disebut berulang kali disampaikan dengan harapan bahwa ketika seorang kandidat mendapatkan amanah dan menduduki kursi kekuasaan, persoalan tersebut akan segera diselesaikan.

Namun waktu terus berjalan.

Pergantian kepemimpinan terjadi, para pejabat silih berganti menduduki jabatan strategis, tetapi masyarakat Desa Dowora masih mempertanyakan kapan janji tersebut benar-benar diwujudkan.

Bagi warga, persoalannya bukan lagi sekadar soal janji politik. Kepercayaan masyarakat mulai dipertaruhkan ketika kebutuhan dasar yang telah berulang kali dijanjikan belum juga menemukan kepastian.

Masyarakat tentu berhak mempertanyakan: sampai kapan mereka harus menunggu?

Kemarau Panjang Menghantui Warga

Kekhawatiran warga semakin meningkat menghadapi musim kemarau yang diperkirakan dapat memperburuk ketersediaan sumber air.

Sejumlah warga mengaku khawatir kondisi mereka akan semakin sulit apabila sumber air yang selama ini digunakan mengalami penurunan debit atau bahkan tidak dapat digunakan.

“Kami khawatir, kalau kemarau panjang datang, apakah kami masyarakat Desa Dowora bisa bertahan? Air bersih saja sampai sekarang belum kami rasakan,” keluh warga.

Dalam kondisi keterbatasan sumber air, warga bahkan disebut terpaksa memanfaatkan air payau di wilayah pesisir. Air tersebut merupakan campuran air asin dan air tawar yang tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri apabila digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

Kondisi tersebut menjadi ironi di tengah pembangunan yang terus digaungkan di berbagai daerah. Ketika berbagai program pembangunan berbicara mengenai kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, masih ada warga yang mempertanyakan kapan mereka dapat menikmati kebutuhan paling mendasar berupa air yang layak.

Pemerintah Diminta Jangan Menutup Mata

Masyarakat Desa Dowora meminta pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi tidak menutup mata terhadap kondisi yang mereka alami.

Persoalan air bersih, menurut warga, tidak seharusnya menunggu momentum politik berikutnya untuk kembali dibicarakan. Kebutuhan tersebut merupakan tanggung jawab pelayanan publik yang semestinya mendapatkan perhatian serius dan berkelanjutan.

Sorotan juga diarahkan kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, yang dinilai memiliki kewenangan dan kapasitas untuk mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait mencari solusi konkret terhadap persoalan tersebut.

Warga berharap perhatian pemerintah tidak hanya terlihat melalui aktivitas dan komunikasi di media sosial, tetapi juga diwujudkan melalui kehadiran nyata di tengah masyarakat yang masih menghadapi persoalan kebutuhan dasar.

Sebab bagi masyarakat Desa Dowora, air bersih bukan janji politik. Air bersih adalah kebutuhan hidup.

Jangan Tunggu Warga Semakin Terdesak

Pemerintah diharapkan segera melakukan verifikasi langsung terhadap kondisi sumber air di Desa Dowora, menghitung kebutuhan masyarakat, serta menyiapkan solusi yang dapat digunakan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Jika benar warga selama puluhan tahun belum memperoleh akses air bersih yang layak, persoalan tersebut semestinya tidak lagi dipandang sebagai masalah kecil di sebuah desa terpencil.

Justru karena berada jauh dari pusat pemerintahan, masyarakat Desa Dowora membutuhkan perhatian lebih serius.

81 tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk memastikan tidak ada lagi masyarakat yang harus bertanya kapan mereka bisa mendapatkan air bersih.

Kini pertanyaannya sederhana, tetapi sangat menentukan kehidupan warga:

Jika musim kemarau panjang benar-benar datang, bagaimana nasib masyarakat Desa Dowora yang hingga hari ini masih harus bertahan dengan keterbatasan air?

Pertanyaan itu bukan sekadar keluhan warga. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk membuktikan bahwa janji pelayanan publik tidak berhenti di atas panggung kampanye, tetapi benar-benar sampai ke pelosok desa.


Redaksi:Arjun

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)