Jakarta,RedMOL.id-Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Mahasiswa Pascasarjana Maluku Utara (FORMAPAS MALUT) Riswan Sanun, meminta Kapolda baru Maluku Utara, Brigjen Pol. Arif Budiman, untuk menjadikan rentetan kasus pembunuhan oleh orang Tidak Dikenal (OTK) di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur sebagai perhatian serius sekaligus Pekerjaan Rumah (PR) utama yang harus segera diselesaikan.
Menurut Riswan, pergantian kepemimpinan di tubuh Polda Maluku Utara harus menjadi momentum untuk memulihkan rasa aman masyarakat yang belakangan ini dihantui berbagai kasus pembunuhan misterius di kawasan hutan dan perkebunan di Pulau Halmahera.
“Ini adalah kado sekaligus PR besar bagi Kapolda baru Maluku Utara. Masyarakat hari ini hidup dalam rasa takut karena kasus pembunuhan oleh OTK terus terjadi namun belum mampu diungkap secara tuntas. Negara tidak boleh kalah oleh pelaku-pelaku kriminal yang mengancam keselamatan warga,” tegas Riswan Sanun dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Riswan menilai, maraknya pembunuhan misterius di wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Timur telah menimbulkan keresahan sosial yang serius. Warga yang sehari-hari beraktivitas di kebun maupun kawasan hutan kini merasa tidak aman karena khawatir menjadi korban berikutnya.
Salah satu kasus yang menyita perhatian publik terjadi di Kecamatan Patani Barat, Halmahera Tengah, pada awal April 2026. Seorang petani lanjut usia bernama Ali Abas ditemukan meninggal dunia di area perkebunan dalam kondisi mengenaskan dan diduga kuat menjadi korban pembunuhan oleh OTK. Kasus tersebut bahkan sempat memicu ketegangan sosial di tengah masyarakat dan mendorong aparat kepolisian melakukan penyelidikan intensif.
Namun demikian, Riswan menegaskan bahwa kasus tersebut bukanlah kejadian tunggal. Ia menyebut, pola pembunuhan misterius di kawasan hutan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur telah berulang dalam beberapa tahun terakhir, tetapi belum menunjukkan perkembangan penanganan yang signifikan.
“Situasi ini tidak bisa dianggap biasa. Ketika kasus demi kasus terus terjadi tanpa kejelasan pengungkapan, maka yang muncul adalah ketakutan publik, hilangnya kepercayaan terhadap aparat, hingga potensi konflik sosial di masyarakat,” ujarnya.
Formapas Malut juga menyoroti berbagai desakan publik yang terus bermunculan, mulai dari tokoh masyarakat, Mahasiswa, Anggota DPRD, hingga Senator DPD RI asal Maluku Utara yang meminta agar aparat penegak hukum, termasuk Kapolri, turun tangan langsung mengusut rentetan kasus pembunuhan tersebut.
Riswan berharap Kapolda Maluku Utara yang baru dapat menunjukkan keberanian dan keseriusan dalam membongkar jaringan maupun motif di balik kasus-kasus pembunuhan misterius yang selama ini meresahkan masyarakat Maluku Utara
“Kami meminta Kapolda baru tidak hanya menjadikan kasus ini sebagai laporan administrasi semata, tetapi benar-benar membentuk langkah konkret, investigasi menyeluruh, dan membuka secara transparan perkembangan penanganan kasus kepada publik,” katanya.
Lebih lanjut, Formapas Malut menegaskan akan terus mengawal perkembangan kasus pembunuhan OTK di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur hingga seluruh pelaku berhasil diungkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Masyarakat Maluku Utara membutuhkan rasa aman. Jangan sampai masyarakat merasa hukum tidak hadir ketika nyawa warga terus melayang secara misterius dan tidak percaya lagi terhadap Negara,” tutup Riswan Sanun.
Redaksi:Arjun
