Wajah kampus adalah pisau filsafat yang membentuk keradikalan epistemologi untuk membaca tanda-tanda, fenomena ini adalah ajang berdiskusi dengan dosen, membuka kesempatan berpikir kritis, dan menjalin komoniktif yang efektif. Setiap individu dikampus mahasiswa sering bertemu berdiskusi, membaca, berdemonstrasi, suda tentunya memiliki latar belakang kebudayaan pemikiran yang berbeda, sinilah oleh Plato disebut sebagai (Dialektika).
(Laboratorium) Kepemimpinan organisasi sebagai tempat untuk mengasa potensi dan memecah masalah, mengakhiri konflik dinamika inilah membentuk karakter manusia, sering kita mendapatkan tekanan kampus yang tak lari jau dengan akademik, Jatu bangun ini sebagai proses melatih mental untuk berkembang terus menerus. Maka menyelami gelombang kampus berarti menyadari bahwa kampus adalah ruang untuk berkembang dan menyelami lautan ilmu pengetahuan.
Untuk menjaga akal sehat perlu mentransformasi kembali kesadaran atau kata Ali syariati, (Tranformasi Diri Ke Tranformasi sosial.) Banyak fenomena yang cukup jau tak sampai selesai Pertamah lingkungan yang terjadi seperti pencemaran lingkungan kasus korupsi, kekerasan seksual. Kampus Harus berbicara menyangkut kepentingan publik untuk melihat apa yang terjadi di bangsa ini dan apa yang seharusnya tugas pemerinta di dalam republik, Akhir-Akhir ini kebenaran disirkulasikan denga pikiran sinilah kebenaran dibatalkan dengan argumen bukan dipertahankan dengan kekerasan, spekulasi Epistemologi mengatakan kebenaran itu harusnya satu, kita harusnya ingat negara ini perna membawa politik ke rana otoritarianisme, kebenaran itu dipaksa kembali pada spekulasi teologis, Maka negara sunggu mengumpankan diri pada otoritarianisme teokratis, inilah cara pandang monolitik dikehidupan kita saat ini.
Ada beberapa Problem akademik ketika berbicara Peran intelektual di rana publik Kegelisahan ini perna di alami oleh Palmquist bermula di suatu konferensi yang dikutip pada tahun 1997. Pada saat itu ia menemukan sebuah makala tertuju pada Carl Jung seorang psikolog terpengaruh oleh ide-ide kant yang dinilai sebagai perangkat konseling psikologi. Sinilah oleh F, Budi Hardiman ruang publik (indonesia) sebuah konsep kedewasaan yang populer terhadap ilmu-ilmu sosial, Teori demokrasi dan diskursus politis. Dalam filsafat pasca- komonisme berbicara bukan hanya dataran globalisasi namun proses lanjut pada dataran ruang publik. Kajian tentang peran intelektual di rana publik akhir-akhir ini menjadi bahan wacana dasawarsa terakhir majalah Prospect yang cukup terpengaruh di Inggris pada tahun 2005 sampai 2008 membuat pendapat siapa saja intelektual publik yang cukup berpengaruh didunia publik jejak pendapat ini mendapatkan 100 toko terpengaruh pada tahun yang sama dirilis tokoh yang terpengaruh.
Dikesempatan ini penulis hanya mengutip salah satu toko terpengaruh di indoensia pada dasawarsa ini sala satunya Anies baswedan dari Asia Tenggara Fersi Terbitan Amerika Serikat. Fenomena Anis Baswedan yang masuk pada 100 toko intelektual publik paling berpengaruh ini merupakan bahwa Indonesia mampu bersaing di rana global. Anies menyampaikan bahwa seorang akademik bukan hanya bergulit diwilaya akademik semata namun bisa berkarya memberi pengaruh pada dunia. Hal inipun membuktikan bahwa seorang akedemis baik itu sarjana, magister, doktor, guru dan dosen sekalipun seharusnya bisa mengambil andil dalam rana publik Jika tidak mampu secara global setidaknya secara nasional.
Sehingga seorang intelektual dapat memberikan sumbangsi global maupun nasional serta memberikan solutif terhadap keumatan dan kebangsaan. problematika yang sering terjadi dan dihadapi oleh Masrakat di akhir-akhir ini cukup pelik terutama soal ekelogis, pendidikan, Ekonomi, kekerasan seksual, Pembunuhan, dan seterusnya, problem yang sangat aktual membutuhkan penyelesaian dan ketertiban. disinlah peran intelektual hadir ditenga-tenga Masrakat untuk menyelesaikan problem dilingkungan Masrakat. Kita harus kroscek kembali banyaknya intelektual hanya duduk di atas menara gading sehingga lupa yang terjadi pada Masrakat bagi Hasan As Shafar kemanusiaan tidak akan terwujud dan keberagamannya belum di anggap benar jikalau ia tidak memperdulikan problem dilingkungan Masrakat. bagi hitchens intelektual publik adalah seseorang yang berdiri tegak membelah kebenaran dihadapan penguasa dan kekuasaan berangkat dari sini ia menegaskan menjadi seorang intelektual publik tak melihat siapa dia agamanya, dan kebudayaan. Konsep ini sejalan dengan Gus Dur bahwa siapa agamamu atau sukumu yang paling terpenting adalah ia berdiri dan membelah kebenaran di atas penderitaan Masrakat ummu peryataan Gus Dur mengingatkan kita bahwa indonesi merupakan negara yang plural bahkan diakhir ini banyak terjadi problem dengan atas nama agama. Walaupun intelektual dan teolog memiliki sejara panjang yang tak bertemu namun hal ini saling membutuhkan. ungkapan seorang Masrakat bawa dari berber yang melanjutkan studinya ke Prancis oleh M. Arkoum dari usahanya memadukan pemikiran barat ( nalar moderen) dan pikiran Islam ( Nalar Islamic) metologi arkoum ini di ambil dari seorang toko klasik yang cukup berpengaruh padamasanya Socrates dan kritisisme Kant rasionalisme dan sikap kritis barat Arkoum mengajukan Proyek besar Kritik nalar Islam bermaksud untuk melihat fenomena sosial budaya melalui perspektif historis hubungan agama dan politis dalam sejarah Islam sering terjebak pada rana simbolik antara ulama dan umara Serta munculnya pemaksaan paham kekuasaan terhadap pemahaman keagamaan yang plural memang tak dapat di pungkiri pola pemikiran Islam menjadi kental, rigid dalam suasana psikologis, sosiologis terhadap intervensi negara adikuasa dibidang liberalisasi ekonomi, politik, dan agresi militer berbagai kawasan dunia Islam. Hal berdampak dan munculnya jargon- jargon islam yang idiologis sebagaimana terjadi di timur tenga fenomena politik yang berbasis idiologi keagamaan sering cenderung agresif sering terjadi dalam sejarah Islam kasus mihna dan kasus politik seperti tegaknya khilafah, penerapan Sariaat Islam Terutama konteks politik Islam di Indonesia. Politik keagaaman yang dijalankan oleh nabi Muhammad layak untuk dikaji kembali dan masa Khulafaur Rasyidin dan di kontekstualisasi kembali.
Fenomena modernisasi Islam di Indonesia dan sampai saat ini cukup dirasakan terlebihnya pada tahun 1970 an yang dimotori oleh generasi muda Cak Nur, Ahmad Wahid, Harun Nasution, lahirnya toko-toko ini membawa angin segar dikalangan aktifis di indoensia terutama masala yang timbul soal agama Harun Nasution Berdiri dan mendobrak denga konsepsi yang sama sehingga memicu kalangan Masrakat dianggap liberal. Toko pembaharuan ini degan tahun yang sama membuka jangkauan berpikir lebi jau Bahkan Kant Berpendapat seorang intelektual tidak hanya berdiam diri pada sona nyaman akademik semata namun seorang intelektual selain memiliki hak ia juga memiliki kewajiban untuk terjun pada dunia publik berhubungan langsung dengan Masrakat begitupun dengan para teolog yang selalu mengunakan juba keteologinya.
Dari paparan ini seorang intelektual publik mecurahkan gagasan atau pemikiran bisa hidup di tengah-tengah masrakt luas sehingga tidak hanya terpacu pada seorang akademis saja namun dari profesor, cendikiawan, dan pemangku agama seperti pendeta, biksu, pastur, Romo, dosen, guru, bahkan pada Masrakat awampun harus menglegemuti Rana publik. (New intellectual) Merek adalah mahluk langka secara global terutama yang berada di kampus mereka bisa menjadi intelektual publik atau kata Antonio Garamsi sebagai Organic intelektual yaitu berdiri secara otonom dan independensi berdiri dengan kebenaran Mereka adalah elat vital dan driving force untuk ke arahan perubahan dan kemajuan bangsa.
