-lanjut, selalu anti kritik terhadap berbagai keluh kesah yg dikeluhkan oleh masyarakat maupun mahasiswa terhadap kebijakan yg tidak sesuai dengan Silah ke 4 (Empat) KERAKYATAN YANG DI PIMPINAN OLEH HIMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN,.
Esensi sila ke 4(Empat) bahwa Selama Eli Saleh menjabat sebagai kepala desa dowora tidak pernah melakukan musyawarah kepada masyarakat. Entah itu dari segi Infrastruktur bagunan, maupun jalan yg diperbaiki, dan Kritik tajam yg selalu di lontarkan oleh mahasiswa selalu di anggap penyerangan pribadi(HETHOMINEM) terhadap Kades Dowora.
Salasatu pemuda desa dowora, Didi Marsyaoly,.menegaskan bahwa Esensi dari pada demokrasi, kritik terhadap pejabat publik adalah kewajiban setiap mahasiswa maupun pemuda yg memili kesadaran untuk melihat berbagai kebijakan yg dilakukan oleh pejabat-pejabat negara,.dan bukanlah sesuatu yg baru saja terjadi hari ini, namun sudah bertahun-tahun,
-Artinya Eli Saleh selaku kepala desa dowora gagal memahami bahwa demokrasi artinya: hak rakyat untuk mempertanyakan semua kebijakan yg di lakukan oleh pejabat negara(pemimpin),.bahwa kritikan arahnya kepada fungsinya sebagai pemimpin(Kades Dowora) bukan penyerangan pribadi(HETHOMINEM),. Ujar Didi.pada jumat,(13/2/2026).
Harapan kami hari ini dan kedepannya seluruh pejabat negara Indonesia paham arti dari seorang pemimpin,.Bahkan M.Alfan Alfian mengatakan dalam bukunya Wawasan Kepemimpinan Politik : Pemimpin adalah jalan menuju kesengsaraan Bukan Kesenangan,.Tutup Didi.
