Ramadhan di Ambang Pintu: Menata Hati, Membangun Empati-dan Perkokoh  Keimanan

Admin RedMOL
0
Oleh: M. GHAZALI FARAMAN
(Mahasiswa Fakultas Hukum Unkhair) 
RedMOL.ID-Sesaat lagi, sang waktu akan mengantarkan kita pada sebuah ambang pintu yang agung, sebuah muara cahaya yang kita kenal sebagai Ramadhan. Bulan suci ini datang bukan sekadar sebagai tamu tahunan yang mengetuk kalender rutinitas, melainkan sebagai "jeda semesta" yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang kian bising dan banal. Di tengah deru ambisi yang sering kali menyesatkan arah pulang, Ramadhan hadir membawa aroma ketenangan,
mengajak setiap jiwa untuk menanggalkan jubah keangkuhannya di hadapan Sang Maha Rahman. Menyambut kedatangannya, tugas pertama kita bukanlah memadati ruang-ruang konsumsi, melainkan melakukan navigasi batin yang paling purba: menata hati. Hati manusia, dalam kerumitan hidup modern, sering kali serupa cermin yang
tertimbun debu-debu egoisme, prasangka, dan pameran kemewahan yang melelahkan. Puasa, dalam esensinya yang paling liris, adalah instrumen langit untuk membasuh cermin tersebut. Ia adalah proses "pengosongan" diri agar kita kembali
mampu melihat pantulan kemanusiaan yang jernih. Menata hati di ambang Ramadhan berarti menyiapkan ruang sunyi di dalam dada—sebuah sudut hening tempat kejujuran dan ketulusan kembali bertahta, jauh dari sekadar formalitas ritual
yang hampa tanpa makna. Namun, spiritualitas yang sejati tidaklah tumbuh dalam keterasingan yang egois.Cahaya yang telah ditata dengan rapi di dalam hati harus mampu berpendar keluar, menembus sekat-sekat sosial dalam wujud membangun empati. Ramadhan adalah madrasah kemanusiaan yang mengajarkan bahwa lapar yang kita pilih secara sadar adalah potret penderitaan abadi bagi jutaan jiwa yang terhimpit nasib. Di sinilah ujian keshalehan kita bermula. Jika puasa hanya membuat kita lemas tanpa membuat kita peduli pada piring tetangga yang kosong, maka barangkali kita hanya
sedang melakukan aksi mogok makan yang sia-sia di hadapan Tuhan. Empati yang dibangun selama Ramadhan harus menjadi "revolusi sunyi" yang
meruntuhkan tembok-tembok kasta ekonomi. Di tengah situasi global dan lokal yang kian menantang, solidaritas tidak boleh berhenti pada retorika atau sekadar sedekah musiman. Ia harus menjadi kesadaran kolektif untuk saling menjaga Sebagai anak muda yang tumbuh dalam dekapan hangat kearifan lokal Desa Maidi, saya teringat betapa Ramadhan di desa adalah tentang simfoni kebersamaan. Tentang tangan-tangan renta yang saling mengulur hantaran makanan dan doa-doa
yang membumbung tinggi dari sela-sela atap surau tua. Nilai-nilai bersahaja inilah yang harus kita panggil kembali: sebuah semangat untuk merasa cukup dalam kesederhanaan dan merasa kaya dalam berbagi. Namun, di balik narasi besar tentang transformasi batin dan sosial ini, ada sebuah
ruang sunyi di sudut sukma saya yang paling dalam. Ramadhan kali ini terasa membawa semilir rindu yang sedikit lebih perih karena jarak yang membentang luas.

Kepada Ayahanda tercinta, Faraman Jumati, dan Ibunda tersayang, Nuraya Taher, mohon maafkan putra kalian yang tahun ini belum bisa bersimpuh di haribaan saat fajar pertama menyingsing. Di meja makan sahur nanti, mungkin akan ada satu kursi yang kosong dan satu piring yang tak terisi, namun ketahuilah bahwa doa-doa saya akan memenuhi setiap sudut ruang rumah kita di Desa Maidi Ayah, engkau adalah simbol keteguhan—karang yang mengajarkan saya cara berdiri tegak meski badai ujian menerjang. Ibu, engkau adalah telaga empati yang airnya tak pernah kering membasahi dahaga jiwa saya yang gersang. Meski raga ini tertahan di perantauan dan tak bisa mengecap hangatnya masakan Ibu di sahur pertama, bayang-bayang wajah kalian adalah kompas yang menjaga hati saya tetap tertata di tengah riuhnya kota. Kerinduan ini adalah bukti abadi bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, rumah adalah tempat di mana kasih sayang tak pernah mengenal batas, jarak, maupun waktu. Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang yang paling puitis. Pulang menuju Tuhan dalam ketaatan, pulang menuju sesama dalam empati, dan bagi saya, pulang menuju ingatan-ingatan hangat tentang Ayah dan Ibu. Semoga di ambang pintu bulan seribu bulan ini, kita semua bukan hanya berhasil memenangkan pertarungan melawan lapar, tetapi juga berhasil menundukkan ego demi menjadi pribadi yang lebih bercahaya bagi sesama.Selamat datang, Ramadhan. Dari kejauhan, doa dan rindu ini saya hantarkan sebagai hidangan sahur pertama bagi jiwa saya sendiri.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)