
Maluku Utara, REDMOL.id-Kebakaran hutan (karhutla) yang terjadi di kecamatan, Gane barat Utara, Halmahera Selatan (Halsel) sudah sangat meluas ke beberapa desa hal ini memicu kekhawatiran masyarakat jika api terus meluas tanaman yang telah mereka rawat selama bertahun tahun akan ikut terbakar walaupun sudah ada upaya pencegahan yang di lakukan agar api tidak terus meluas namun usaha tersebut belum maksimal karena keterbatasan air dan peralatan yang kurang memadai dengan berbagai upaya yang terus lakukan.
Sampai saat ini pemerintah kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) belum menunjukan tanda serius, yang menunjukan adanya langkah langkah dan upaya melakukan tindakan mitigasi dan kesiapan pemerintah daerah ketika terjadi sebuah bencana/musibah saat dalam keadaan darurat seperti kebakaran hutan (karhutla) sebab, kebakaran hutan bukan lagi menjadi isu regional tapi suda merupakan isu nasional yang harus di sikapi dengan serius, pemerintah daerah sehurusnya sudah memiliki kesiapan dan persiapan dan mengarahkan sumber daya yang ada jika bencana/ musibah itu terjadi namun pemerintah tidak siap dengan semuanya, ketika terjadi kebakaran hutan (karhutlah) hanya masyarakat yang menghadapinya sendiri tanpa ada bantuan dari pemerintah daerah hal ini membuat Gerakan pelajar mahasiswa gane barat Utara (GPM GARUT) tidak puas dengan sikap Pemda Halsel seakan akan Gane barat Utara bukan lagi bagian dari Wilayah administrasif Halmahera Selatan.
GPM GARUT menilai sikap Pemda Halsel, yang lambat respon dan biasa saja melihat musibah yang di hadapi masyarakat Gane barat Utara, ini bukan soal kritik kami kepada pemerintah yang di pimpin bupati tapi justru mengingatkan bahwa ada kewajiban yang harus di jalankan ketika masyarakat Halmahera Selatan mumbutuhkan terkhususnya masyarakat Gane barat Utara
Maka dari itu, Gerakan pelajar mahasiswa gane barat utara(GPM GARUT) mendesak serta mengultimatum kepada pemerintah kabupaten Halmahera Selatan agar supaya segera mengambil tindakan kongrit dalam upaya menangani kebakaran hutan (Karhutla) bersama masyarakat karena suda menjadi ancaman serius bagi lingkungan, serta berdampak pada kehidupan masyarakat Gane barat Utara itu sendiri.
Dalam ilmu antropologi kebencanaan, kondisi yang terjadi di Gane Barat Utara dapat dipahami sebagai situasi emergency atau keadaan darurat, yaitu kondisi mendesak, tidak terduga, dan berbahaya yang mengancam kesehatan, keselamatan jiwa, harta benda, serta kelestarian lingkungan dan membutuhkan tindakan segera.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan alam, melainkan juga persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan pemerintah dalam menanganinya
Secara geografis dan administratif, Gane Barat Utara merupakan salah satu wilayah kecamatan yang berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Wilayah ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat, terutama dalam sektor pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, keberadaan hutan dan lahan pertanian memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mendukung keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.
Jika dilihat dari aspek ekonomi, sebagian besar masyarakat Gane Barat Utara memiliki ketergantungan mereka pada hasil hasil pertanian dan perkebunan serta Komoditas seperti cengkih, pala, kelapa, dan berbagai jenis tanaman pertanian lainnya juga menjadi sumber pendapatan yang sangat penting bagi masyarakat. Dari hasil pertanian inilah masyarakat berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, membiayai pendidikan anak-anak, serta memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Pertanian bukan hanya sekedar menjadi sumber penghasilan, tetapi juga merupakan bagian dari harapan masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Namun, harapan tersebut kini terancam akibat kebakaran hutan yang melanda wilayah tersebut
Api yang terus meluas di kawasan hutan dan di lahan - lahan pertanian warga, berpotensi menghanguskan tanaman produktif yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Kondisi ini tentu menimbulkan kehawatiran bagi para petani karena kerugian yang ditimbulkan dapat berdampak pada kehidupan ekonomi mereka dalam jangka panjang. Jika kebakaran ini terus meluas dan tidak segera ditangani dengan serius, masyarakat akan menghadapi ancaman kehilangan sumber pendapatan yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan mereka ikut hangus terbakar.
Dalam perspektif Antropologi, kebakaran hutan juga dapat dipahami sebagai persoalan yang berkaitan erat dengan hubungan antara manusia, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan sosial. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, masyarakat yang bergantung langsung pada sumber daya alam menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampaknya. Oleh sebab itu, penanganan kebakaran hutan di Gane Barat Utara harus menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah daerah yang memiliki tanggung jawab dalam melindungi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.
Atas dasar kondisi tersebut, Gerakan pelajaran mahasiswa gane barat utara (GPM GARUT) mengecam keras Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, agar tidak tinggal diam dalam melihat persoalan kebakaran hutan yang saat ini yang dialami masyarakat Gane Barat Utara.
Melalui bidang PTKP Gerakan pelajar mahasiswa gane barat Utara, M. Kadafi M Halil menegaskan, Pemerintah daerah harusnya segera mengambil langkah nyata melalui pengerahan instansi terkait, agar melakukan upaya pemadaman api, penanganan wilayah terdampak, serta pemberian bantuan kepada masyarakat yang mengalami kerugian. Jangan sampai masyarakat dibiarkan menghadapi bencana ini sendirian tanpa kehadiran dan dukungan pemerintah.
pemerintah daerah harusnya hadir ketika masyarakat berada dalam situasi darurat. Kebakaran hutan di Gane Barat Utara bukan persoalan yang dapat dianggap remeh karena ini menyangkut keselamatan lingkungan, keberlangsungan ekonomi, dan masa depan masyarakat
Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan diharapkan segera menunjukkan sikap yang serius dengan melalui tindakan nyata, bukan hanya sebatas pernyataan dan berakhir dengan kenyataan pahit. (Editor/Arjun)
